Go to content Go to footer

Softwaremu Halal ? 7 comments

Inget kasus dimana salah satu pabrik besar penyedap masakan dipenalti MUI (Majelis Ulama Indonesia) karena terbukti pada proses pembuatannya menggunakan material dari babi ?

Material dari babi inipun digunakan hanya sebagai katalis proses. Bukan proses manufaktur utamanya. Tapi tetap MUI menfatwa haram.
Saya sepakat dalam urusan agama “jangan bermain di area abu-abu”.

Nah, sekarang coba dideduksi seperti ini :
Kalo babi haram, apakah barang curian juga haram ?
Jawabnya sudah pasti iya.

Kalo barang bajakan bagaimana ? Apakah juga haram ?
Saya mengamini bahwa barang bajakan juga haram.

Gimana kalo software bajakan ? Misal saya pakai Visual That, Add-Ins CodeRefactor This, Bla Bla Bla CreativeSuite untuk pengerjaan satu project. Download trial/demo version dari situs resminya, cari crack-nya di Astalavista.

Lantas dapet uang dari project itu. Yakin uang itu barokah?

Satu titik forbidden material di proses manufaktur sudah dikatakan produk haram. Apalagi jika untuk produksi pake mesin utama curian ?

Untuk yang (katanya) di quadran E, mungkin ya gak masalah. License itu urusan juragan, dan makmum hanya bisa mengingatkan tanpa kewenangan mengambil keputusan.

Lha, kalo yang stand alone developer / designer ?

Bisa jadi : Java / Python running di Fedora, Ubuntu, atau Mandrake Mandriva. Bagi saya noproblem. Tapi bagi klien ? Tahu kan susahnya mau ngeprint pake printer jaringan atau ngeset ulang no IP karena kabel UTP kesenggol? Lebih banyak yang terbiasa model Klik Kanan Next Next Finish ketimbang harus buka Konsol, ketik su, dmesg.
Lalu….. panic ngeliat isi /etc/init.d yang menurut saya : Asu tenan!.

Seringnya malah hiatus. “Ndak papa mas kalo susah pake OS yang biasanya saja, databasenya pake Access supaya gak ribet”. Eh pertama, Jet Engine Access itu berbayar sodara, dan kedua banyak organisasi lagi gencar razia. Warnet-warnet Cilacap sudah kena getahnya (cari sendiri beritanya di detik).
Jujur atas nama blog ini, saya pernah berhadapan dengan klien seperti itu. Dan klien yang raja, saya cuma joker.

Saya tunjukin harga produksinya ke temen satu tim. Eh nyengir kuda “Dry, kamu aja pake SharpDevelop dan MonoDevelop, gw tetep pake biasanya. Eh, duit segitu mending untuk nerusin bangun rumahmu atau invest tanaman jahe/ginseng”.
Saya cuma sepakat perihal rumah dan investasinya.

Ngeri mann ngeliat kita jadi bangsa pecandu barang bajakan. MUI malah diem aja, padahal ini menyangkut kehidupan penghidupan khalayak umum.
Atau jangan-jangan justru polisi Cilacap hasil training BSA ngetik laporan pake Word bajakan ?

gravatar
1. cosa
Gw kebetulan kuliah komputer. Pas pelajaran agama, ada yg tanya, haram gak hukumnya kalo pk software bajakan buat belajar + bikin tugas kuliah? Nah, kata dosennya, benernya emang haram, tapi kalo emang bener2 kepepet (gak ada duit buat beli original), ya gpp asal diniatin kalo pk software bajakan itu emang kepaksa buat nuntut ilmu...

Gw jadi ngerasa lebih banyak dosanya kuliah IT :D
gravatar Hasil diskusi terakhir saya dengan rekan rachmad seh juga begitu : "Nggak ngapa-ngapa kalo buat kepentingan pendidikan".
Kampus juga pasar potensial untuk membangun komunitas pengguna. Jadi mestinya penggunaan software bajakan untuk kegiatan belajar mengajar justru malah menguntungkan vendor software ybs.

Pikiran nakal saya seh usul skema :
1. Untuk pendidikan, terserah mo pake bajakan atao apa. Yang penting efektif untuk menjelaskan konsep ilmunya.
2. Untuk komersial software, liat2 kebutuhan dan budget. Kalo memungkinkan memakai tool berbayar ya lalukan. Tapi kalo misal budget terbatas ya lari ke Open Source yang license-nya... "fleksibel".
3. Untuk komersial desain grafis : 2D, 3D dlsb. Saya sepakat untuk hijrah ke Mac.. heheh.. .
gravatar Dari Microsoft, ada ngga yah yang gratis/murah untuk pendidikan? Kalau saya bilang, ini yang paling dicari-cari... Maklum, 90% dari pengguna komputer memakai produk Microsoft. Kalau dari pendidikan sudah ditekankan untuk menggunakan produk yang non-bajakan (including your books!), mungkin Indonesia bisa jadi produsen yang kuat untuk industri ini.
Contohlah India, Singapura, atau Vietnam. Mereka pada awalnya ngga punya apa-apa di bidang industri berat. Tapi sekarang, mereka calon-calon kuat untuk maju di dunia Informasi.
gravatar Mestinya ada yang murah buat edukasi. Open License atau Education Licenses namanya, saya samar2 ingat. Tapi saya yakin ada karena mantan dosen saya pernah "pamer" sertifikatnya.

Cuma mungkin harganya masih mahal, terutama untuk universitas kecil. Cek ini., saya juga gak bayangin gimana harga segitu diberlakukan mentah-mentah untuk pendidikan komputer 1 atau 2 tahun (seperti kursus).

Sepengalaman saya, ndak pernah ada dosen spesifik minta mahasiswanya mengerjakan tugas pakai tool tertentu. Tapi kalo memang katakan saya jadi dosen (misalnya lho, saya ndak suka jadi dosen), dan terpaksa untuk tidak pakai barang bajakan, saya akan dengan senang hati meminta mahasiswa untuk belajar Agile Metodology pakai NetBeans. Materi tersampaikan, kampus aman dari sapuan BSA. What can I say ?

Kecuali kalo kita yakin bahwa esensi pendidikan Indonesia cuma untuk mencetak "tenaga siap pakai". Sarjana Teknik Mesin harus bisa mengoperasikan Mesin A, Mesin B Mesin C. Sarjana Teknik Kimia harus bisa dengan Mesin D. Dan Sarjana Komputer harus bisa Visual That, OpenIDE This, dst..dst.. Kalo memang ini yang kita yakini, yo pantes2 saja kita kalah jauh dengan India.
gravatar Found something:
http://www.microsoft.com/indonesia/msdn/academic/

Tentang esensi pendidikan, I think inilah kelemahan bangsa kita. We think too much in concept but no action is done! Perusahaan kita lebih banyak menyenangi Sarjana S1 daripada D3, sehingga butuh lebih banyak waktu dan tenaga untuk melatih ulang... Those where time lost, those where money lost. Padahal hasil akhirnya semua S1 itu berdaya guna yang sama dengan D3, bedanya mereka nambah 1 tahun di kuliah dan setengah tahun di training.
gravatar 1. Lho kalo polisi sendiri pake software bajakan, entar kalo masuk neraka mah polisinya aja duluan. Pasti rame tuh neraka karena yang nyemplung kebanyak polisi kita. Hahahahahaha
gravatar [...] Bahasa yang lebih manusiawi dari cuplikan pasal diatas : “tidak boleh menggunakan satupun software illegal” (menurut saya, bisa lebih “clean”) Munculnya klausa ini bermula dari kejadian seminggu lalu. Klien sudah lama menggunakan software milik vendor A. Lalu klien juga pesan software milik vendor B untuk sistem yang lain. Saat kedua software beda vendor ini dijalankan di satu mesin, software vendor A malah tidak jalan. Usut punya usut, ternyata keduanya menggunakan komponen yang sama (Janus Grid) hanya saja beda versi. [...]

Your lovely comments, if you please.

Remember
 
Textile Help

this is not Spam.
   

Preview