.Learn at least one new [programming] language every year. Different languages solve the same problems in different ways. By learning several different approaches, you can help broaden your thinking and avoid getting stuck in a rut.
—Pragmatic Programmer.
Saya memang sedang belajar Ruby.
Tahun depan saya punya rencana belajar Erlang. Mungkin juga Haskell, Brainfuck, Lua, atau bernostalgia bersama Prolog.
Itu meski tahun depan, pekerjaan menuntut saya tetap menunggang gajah, maksud saya, Java.
Ada yang namanya tool. Ada yang namanya perspektif. Belajar bahasa pemrograman baru bisa memperluas perpsektif. Selalu ada lebih dari satu cara untuk menyelesaikan sesuatu.
Di tahun 2000, siapa sih yang menyangka bahwa CSS layout itu lebih powerful dan lebih gampang ketimbang table layout?
Kalau ingin membongkar enkripsi shareware (mbajak nih ceritanya), mana yang anda pilih: membongkar 1024 bit algoritma enkripsi atau mem-bypass saja enkripsinya dengan mencegat semua return value dengan isian true?
Terlalu emosional, terlibat jauh di debat kusir “flame war” akan memberangus banyak kesempatan indah untuk melihat sesuatu dari perspektif lain. Silahkan saja mau memilih Delphi sampai akhir jaman. Saya ada kenalan yang kaya (baca: mobil, rumah, dana pensiun mandiri) hanya berbekal Clipper dan Ashton Tate DBase III+.
Kita memang suka bermain dengan tool. Menebang pohon dengan kapak favorit selalu menyenangkan karena hasilnya bisa dilihat dengan cepat.
Chop, chop, chop!.
Karena sudah kadung punya ikatan batin dengan kapak, bahkan pohon semangka-pun kita tebang dengan kapak maut naga geni 212.
Ga masalah sih selama pohon semangkanya tumbang.
Ibarat nembak semut dengan meriam, yang penting semutnya mati.
Tapi alangkah baiknya kalo kita meluangkan sekali waktu menghayati perilaku nenek moyang kita, gelantungan di pohon, dan melihat area hutan yang lain.
Menurut saya sih, sebagai konsultan lebih penting gelantungan di atas pohon ketimbang menebang kayu. Perspektif dulu lalu tools.
Saya beruntung pernah jadi atheist.
Karenanya saya mengenal Tuhan jauh lebih baik sekarang.
Proletar TI seluruh dunia, bersatulah!
(mumpung 1 Mei nih.. :D )

Shit happens. Ada urusan mendadak jadi ga sempet reboot 1 May.
Diluar hal itu, secara subyektif, untuk saya yang terbiasa bermain di lingkungan .NET/Java, Ruby memang pilihan logis ketimbang PHP dalam hal: 1. Web development dengan Rails dan Nitro framework. 2. Glue code. Misalnya Springy untuk Spring, Buildr sebagai alternatif dari Maven, Watir sebagai alternatif Selenium IDE, CruiseControl.rb untuk Continous Integration, Capistrano untuk deployment kit. 3. Shell programming. Entah kenapa, feeling saya kurang "tune-in" dengan Bash dan Perl. Lebih cocok ke Ruby. Kali ini saya akui, ini masalah selera :D