`

Belajar Bahasa Pemrograman Baru: Pilihan Yang Masuk Akal

Posted by andry
on Tuesday, May 01
.Learn at least one new [programming] language every year. Different languages solve the same problems in different ways. By learning several different approaches, you can help broaden your thinking and avoid getting stuck in a rut.
—Pragmatic Programmer.

Saya memang sedang belajar Ruby.
Tahun depan saya punya rencana belajar Erlang. Mungkin juga Haskell, Brainfuck, Lua, atau bernostalgia bersama Prolog.

Itu meski tahun depan, pekerjaan menuntut saya tetap menunggang gajah, maksud saya, Java.

Ada yang namanya tool. Ada yang namanya perspektif. Belajar bahasa pemrograman baru bisa memperluas perpsektif. Selalu ada lebih dari satu cara untuk menyelesaikan sesuatu.

Di tahun 2000, siapa sih yang menyangka bahwa CSS layout itu lebih powerful dan lebih gampang ketimbang table layout?

Kalau ingin membongkar enkripsi shareware (mbajak nih ceritanya), mana yang anda pilih: membongkar 1024 bit algoritma enkripsi atau mem-bypass saja enkripsinya dengan mencegat semua return value dengan isian true?

Terlalu emosional, terlibat jauh di debat kusir “flame war” akan memberangus banyak kesempatan indah untuk melihat sesuatu dari perspektif lain. Silahkan saja mau memilih Delphi sampai akhir jaman. Saya ada kenalan yang kaya (baca: mobil, rumah, dana pensiun mandiri) hanya berbekal Clipper dan Ashton Tate DBase III+.

Kita memang suka bermain dengan tool. Menebang pohon dengan kapak favorit selalu menyenangkan karena hasilnya bisa dilihat dengan cepat.

Chop, chop, chop!.

Karena sudah kadung punya ikatan batin dengan kapak, bahkan pohon semangka-pun kita tebang dengan kapak maut naga geni 212.

Ga masalah sih selama pohon semangkanya tumbang.
Ibarat nembak semut dengan meriam, yang penting semutnya mati.

Tapi alangkah baiknya kalo kita meluangkan sekali waktu menghayati perilaku nenek moyang kita, gelantungan di pohon, dan melihat area hutan yang lain.

Menurut saya sih, sebagai konsultan lebih penting gelantungan di atas pohon ketimbang menebang kayu. Perspektif dulu lalu tools.

Saya beruntung pernah jadi atheist.
Karenanya saya mengenal Tuhan jauh lebih baik sekarang.

Proletar TI seluruh dunia, bersatulah!
(mumpung 1 Mei nih.. :D )

Comments

Leave a response

  1. Firman FirdausMay 01, 2007 @ 12:09 PM
    i'm not an IT person, tapi saya sepakat untuk mengedepankan perspektif ketimbang tools. ini sama dengan memilih: sense atau teknik dalam memotret.
  2. AnonymousMay 01, 2007 @ 12:29 PM
    "Terlalu emosional, terlibat jauh di debat kusir “flame war” akan memberangus banyak kesempatan indah untuk melihat sesuatu dari perspektif lain." Gw sampai terharu nih.. gw masukin jadi most favorite quote gw. Salut deh!
  3. devieMay 01, 2007 @ 01:53 PM
    tapi kalau terlalu banyak yang bakal diraih bisa bisa ndak kesampaian semua kan? cukup tahu aja kan? ndak harus expert di semuanya.
  4. tukangkodingMay 01, 2007 @ 02:00 PM
    you're my pragmatic man ! hidup atheist..eh pragmatic !
  5. Masim "Vavai" SugiantoMay 01, 2007 @ 02:42 PM
    Artikel yang menarik dari orang yang berkemampuan. Great !
  6. yantiMay 01, 2007 @ 03:26 PM
    Gw jadi inget. Guru bahasa Jerman gw dulu bilang, dengan belajar bahasa kita bisa belajar paradigma berpikir bangsa itu. Jadi kita ga cuma diuntungkan dengan ngerti bahasanya dan ngerti kalo lagi digosipin :D. Tapi juga belajar cara lain dalam menghadapi sesuatu.
  7. ObyektifMay 01, 2007 @ 05:43 PM
    Kalau cuma sekedar belajar, ok saja. Belajar itu mengasah otak, biar tidak tumpul. Tapi, untuk dunia kerja, ada baiknya juga fokus, dan punya spesialisasi. Yang sering saya jumpai saat melamar pekerjaan di Indonesia, kita dituntut untuk "serba bisa". Walaupun kenyataannya serba bisa "ala kadarnya". Beda kalau di luar negeri, pengalaman saya, yang lebih banyak dicari adalah specialist. Tidak perlu tau semua, yang penting expert di bidang-nya.
  8. AndryMay 01, 2007 @ 07:19 PM
    *Obyektif* Kalau saya tetap strict ke "spesialis", bisa nggak makan di Indonesia :). Jalan tengah yang bisa saya tempuh: jadi Creative Generalist. Gimana lagi, orang Indonesia yang notabene spesialis handal pada di luar negeri ga mau balik :D Soro wes..
  9. arieMay 01, 2007 @ 07:32 PM
    @yanti: +1 saya senang melihat satu objek dari banyak sisi
  10. ObyektifMay 01, 2007 @ 09:00 PM
    Andry, iya memang benar begitu. Makanya yang saya tulis itu berdasarkan pengalaman dari dua tempat yang berbeda. Di Indonesia kita mesti bisa jadi Superman :)
  11. tukang ketikMay 02, 2007 @ 09:07 AM
    CSS layout tuh apa sih? bisa dijelaskan lebih dalam? kalo bisa dibuatin hands on lab-nya. thx
  12. adiMay 02, 2007 @ 09:35 AM
    Inspiratif seperti biasa. Two thumbs up !
  13. HediMay 02, 2007 @ 10:22 AM
    Esensi tetap nomor satu dan tools digunakan untuk mencapai hal itu. Tapi pancet Ndry, iki komentar teko ayas sing guduk programmer :P
  14. IMWMay 02, 2007 @ 02:31 PM
    Biasanya saya kalo mencoba mempelajari suatu bahasa pemrograman saya coba "ekstrak" fitur paling khas dari bahasa tersebut. Sehingga tahu paradigma utama apa yang digunakan bahasa tersebut, dan nanti kalau dibutuhkan pemecahan masalah dengan paradigma tersebut, sudah tahu toolnya. Contoh LUA mengandalkan pemrosesan semua obyek sebagai tabel (termasuk melakukan functional dan obyek direpresentasikan dengan tabel). Atau Erlang yang berbasiskan Message Passing (berlandaskan CSP). Atau OZ yang relatif multiparadigm. OCAML yang menerapkapkan pendekatna obyek utk meta language (turunan dari ML). dsb.. dst...
  15. AndryMay 02, 2007 @ 02:52 PM
    IMW Hhah! Betul! Itu maksud saya. Ambil paradigma bahasa pemrograman. Mungkin nggak berguna di level sintaks pada bahasa yang lain, tapi berguna untuk latihan kreativitas dan .. imajinasi.
  16. IMWMay 02, 2007 @ 04:00 PM
    Biasanya akan berguna ketika suatu "fitur" bahasa itu diserap ke bahasa mainstream (yg banyak dipakai). Garbage collector butuh 30 tahun untuk diserap Java setelah ada di LISP dan lainnya. Jadi mungkin nanti kalo bicara "monad", "continuation" juga akan terserap ke bahasa mainstream seperti VB.Net :-)
  17. JauhariMay 03, 2007 @ 12:40 PM
    Jadi Seperti REALITA saja :D Ada SUNDO(ASP), MEDURO(PHP), JOWO(PERL) dan lain lain trus di satukan sama INDONESIA(XML) Atau ada Bahasa INDONESIA(ASP), MALAYSIA(PHP), CHINA(PERL), TAGALOK(SQL) atau bahasa lain dan disatukan dengan INGGRIS(XML) *kalau boleh dibilang seperti itu
  18. Boss Jedi MasterMay 03, 2007 @ 02:34 PM
    to IMW, Cara apa yang biasa Anda pakai untuk mengekstrak paradigma bahasa pemrograman? Apakah Anda akan langsung masuk menyelami bahasa pemrograman tersebut (secara praktik) ditambah referensi seperti wikipedia, situs official bahasa pemrograman tersebut dan mailling list bahasa pemrograman tersebut? Atau Anda mengekstraknya dari referensi/buku teori?
  19. kusMay 03, 2007 @ 05:32 PM
    ngomong2 soal mayday, kok gak di reebot tampilan situsnya?
  20. AndryMay 03, 2007 @ 06:43 PM
    Kusaeni:
    Shit happens. Ada urusan mendadak jadi ga sempet reboot 1 May.
  21. ario dipoyonoMay 04, 2007 @ 05:37 PM
    koq gak belajar buat bahasa pemrograman sendiri aja ??
  22. Wibisono SastrodiwiryoMay 07, 2007 @ 03:06 AM
    Saya dahulu kala pengguna PERL, saya suka karena bisa bikin WEB jadi interaktif dengan CGI nya, kemudian datang ASP yang kodenya embeded di dalam HTML jadi suka ASP, tapi saya cuma suka embedednya, untuk urusan lain masih lebih suka PERL. Kemudian saya berkhayal seandaianya ada bahasa pemrograman yang bisa embeded seperti ASP tapi bahasanya mirip PERL pasti sangat menyenangkan. Kemudian seorang teman memperkenalkan saya pada PHP (waktu itu masih PHP3), wow seperti dapet jutaan dollar, this is what I'm looking for. Saya jatuh cinta pada PHP dan terus pakai sampai sekarang, hingga kini saya masih mencari bahasa baru yang bisa membuat saya senang seperti dulu waktu ketemu PHP pertama kali. Saya curiga pada RUBY, jangan jangan si RUBY ini punya sesuatu yang dahsyat (karena memang begitu gosip yang saya dengar). Tempat favorite saya untuk mencari tahu adalah milis. Berharap RUBY punya milis seperti PHPUG, dan memang ada http://tech.groups.yahoo.com/group/id-ruby/ Tapi sayang seribu sayang, praktisi RUBY tidak mau terbuka seperti praktisi PHP, milis nya private, gak bisa dibaca lewat web dan yang lebih aneh lagi untuk menjadi anggota tidak cukup subscribe tapi harus ngisi formulir segala. Padahal di sambutannya di sebut milis itu untuk bikin orang Indonesia tambah pinter, tapi kok dipersulit yah, tidak sperti milis bahasa pemrograman yang lain. Mudah dan ramah. Saya tidak tahu alasan mereka dan berharap ada tempat lain yang bisa lebih ramah dan mudah. Sementara itu saya cukup berbahagia dengan tool dari PHP, menambah perspektif selalu menyenangkan, seperti jalan jalan disebuah pesta dan melototi cewek cewek cantik lalu membandingkannya dengan pacar kita (wow cantik juga tuh cewek, tapi masih cakepan cewek guelah.. hehehe)
  23. AndryMay 07, 2007 @ 09:06 AM
    Wibisono: Keluhan anda sudah saya sampaikan di teman-teman id-ruby. Jujur saja, saya juga baru nyadar kalau id-ruby jadi sok esklusif begitu. Maaf.
    Diluar hal itu, secara subyektif, untuk saya yang terbiasa bermain di lingkungan .NET/Java, Ruby memang pilihan logis ketimbang PHP dalam hal: 1. Web development dengan Rails dan Nitro framework. 2. Glue code. Misalnya Springy untuk Spring, Buildr sebagai alternatif dari Maven, Watir sebagai alternatif Selenium IDE, CruiseControl.rb untuk Continous Integration, Capistrano untuk deployment kit. 3. Shell programming. Entah kenapa, feeling saya kurang "tune-in" dengan Bash dan Perl. Lebih cocok ke Ruby. Kali ini saya akui, ini masalah selera :D
  24. aditMay 07, 2007 @ 03:22 PM
    ---> bahagia memakai php skrng, lebih bahagia lagi memakai ruby/ruby on rails 1 tahun ke depan ?, entah, mungkin java, eiffel, smalltalk atau assembler :D