Skip To: Content | Sidebar | Footer
Sitemap   

Bahasa dan Pola Pikir

Bahasa mempengaruhi pola pikir. Dan sedikit banyak, kepribadian.
Ini berlaku untuk bahasa apapun.

Dialek surabaya yang pendek dan jujur, meski terlihat kasar tapi membuat seseorang menjadi “apa adanya”.
Dialek jogja yang halus tapi dalem, membuat kita harus berpikir dua kali untuk mengartikan maksud “ada apanya”.

Nah, kalo marketing, ga peduli dari daerah, pasti "apa-apa ada".

Dari bahasa tertulis kita bisa melihat, blog yang ditulis rapi serius menunjukkan orang sekuensial konkrit.
Tulisan yang mengalir dengan pokok pikiran tersebar dimana-mana menunjukkan person yang random konkrit.
Tulisan saya sendiri, random abstrak. Ndak jelas. Kabur. Ndak EYD. Kareanya, selalu saya usahakan untuk tetap cihuy.

Ini memang berbau generalisasi. Stereotype. Tapi setidaknya bisa jadi acuan pertama kalo gw butuh mem-profiling si empunya blog. Hehe..

Jelas ada beda orang yang selalu menghiasi ucapannya dengan ucapan ilahiah (entah riya atau ikhlas) dan orang yang berstiker che-guevara di sepeda motornya (i.e : sepeda gw!).

Yang satu bilang istiqomah. Yang lain bilang konsistensi.
Yang ini bilang rahmatan lil alamin. Yang itu bilang radikal revolusioner.


Meski benang merahnya sama, nilai kesan yang ditimbulkan jelas beda.

Bahasa Cinta
Beberapa suka mengekpresikan cinta seperti :
“saya ingin mencintaimu seperti surga, tak terukur badan, tak terukur waktu”

Yang lebih todepoint :
“kalo loe nyeleweng, gw bunuh loe”

Atau yang pragmatis tapi garink habis :
“mau nggak, gw bikinin template blog valid CSS dan 508 ?”


Sama-sama bahasa cintanya sih, hanya saja cara berpikirnya beda. Hehe.

Lalu siapa yang mulai mempengaruhi ? Bahasa atau cara berpikir ? Saling mempengaruhi mestinya. Ada dialektika diantara keduanya.

Bahasa Pemrograman
A language that doesn’t affect the way you think about programming is not worth knowing
— Alan Perlis

Mort, Elvis, Einstein itu mungkin bercanda. Tapi anda harus tahu seluk beluk bahasa VB/C#/VC++ untuk bisa tertawa. Memecahkan masalah dalam bahasa-bahasa itu beda, itu yang bikin gw "ngakak".

Syntax pemrograman mempengaruhi cara kita memecahkan masalah.
Sama seperti bahasa daerah dan bahasa cinta, semua mempengaruhi pola pikir.

Saya juga yakin bahasa satu memperkaya yang lain. Kita kenal sebagai adaptasi bahasa. Seperti kata amuk menjadi amok.
Tapi, pembahasan ini bukan keahlian saya.

Hla wong saya cuma tamatan sastra komputer. Xixixi...
gravatar on
andriansah said :
1

Kadang di perlukan bahasa yang harus mikir untuk memberi pengertian akan suatu hal.

Tapi memang gw lebih suka orang langsung ngomong aja gak usah muter2...

Kalo bahasa program? wah itu harus mikir terus... :)
gravatar on
fahmi jelek said :
2

import java.lang.*;
System.out.println("cak, ngomong boso jowo ae... oye?");

Andry : lucu sampeyan iki cak, onok import-e tapi gak onok entry point-e : public static void main() -nya mana ?
gravatar on
dedenf said :
3

hueuehuheuehue, Good Point!!
gravatar on
hericz said :
4

Tapi orang jawa timur pisuhannya lebih variatif dan nggilani. Mungkin itu mempengaruhi pola pikir mereka juga yah. Anak2 kalo dari kecil udah diajari 'pisuhan yang baik' pasti terpengaruh dong, apalagi kalao bertahun-tahun.

Yang jelas bahasa indonesia itu nggak cool!™ hihihi
gravatar on
yanti said :
5

Dalam bahasa Indonesia, Anda ditulis dgn huruf besar. Seperti juga Sie (=Anda) dalam bahasa Jerman atau U (=Anda juga) dalam bahasa Belanda. Sementara dalam bahasa Inggris, I, kata pengganti orang pertamalah yg justru ditulis dalam huruf besar.

Terus aku perhatiin, bahasa Jawa & Sunda (& Bali?) mengenal tingkatan. Istilah Sundanya undak usuk basa. Beda dengan bahasa2 di daerah lain.

Menurut jij, dua hal itu menunjukkan apa ya? :mrgreen:
gravatar on
doeljoni said :
6

dari tulisanmu, aku nangkepnya :
bahasa mempengaruhi pola pikir, dan pola pikir mempengaruhi pilihan berbahasanya, gitu ?

jadi kalo pake yang bahasa yang ngak cool™, pola pikir kita bisa gak cool dong ?

lha opo iyo ngono ?
:mrgreen:

Andry : betul sekali. Dua-duanya saling mempengaruhi seperti itu. Istilahnya (meminjam dari Paulo Freire) berdialektika.
gravatar on
Amal said :
7

Koreksi: u dalam bahasa Belanda tidak perlu ditulis dengan huruf kapital, walaupun u lebih sopan daripada jij.

Dari sisi pembuat bahasa pemrograman, yang terjadi bisa sebaliknya: pola pikir yang dia ambil mengarahkan dia menyusun sebuah bahasa pemrograman.

Demikian juga ada nilai-tawar yang muncul pada saat pemrogram memilih sebuah bahasa (dengan asumsi tidak ada atau sedikit pertimbangan teknis lain). Ada preferensi yang menyebabkan si A memilih jalur Pascal, kemudian C, dan berikutnya terdampar di Perl. Atau sebaliknya: Pascal adalah segalanya, untuk kompromi pun dia hanya beringsut ke Borland Delphi.

Andry : dari pengalaman memang syntax , construct, principles, dan pattern dalam suatu bahasa pemrograman mempengaruhi cara saya memecahkan masalah. Ini misalnya yang paling kentara :

snippet untuk keluarga c dan dialek lainnya :
for (int i=0; i < 1000; i++) {
//do something
}


untuk Ruby :
1000.times do
#do something
End


Dua snippet itu sama-sama looping, tapi jelas mempengaruhi cara pikir programmer ybs. Yang satu berpikir untuk memenuhi kebutuhan construct programming, yang satu berpikir secara natural saja seperti berbicara ke manusia : "1000 kali lakukan ini"
gravatar on
nana said :
8

oot : lha kalo dipengaruhi banyak bahasa bisa schizo gak? :mrgreen:

Andry : Pokok jangan pake bahasa klingon aja..
gravatar on
didats said :
9

weks!
cara ini:

Atau yang pragmatis tapi garink habis :
“mau nggak, gw bikinin template blog valid CSS dan 508 ?”


memang garink abis.
tapi kalo cara ini?


“aku bisa ngajari kamu bikin template valid CSS, mau?”
gravatar on
-tika- said :
10

hahaha..
kalo bahasa tubuh, mas??
:D
Leave a comment

Keep it polite and on topic.
Your email address is required, but won't be displayed.

Remember
Textile Help
_emphasis_
*strong*
-deleted text-
@[email protected]
"link text":http://link.url
!http://image.url!
ABC(Always Be Closing)
  this is not Spam.
preview

:

Feb 26, 04:05 PM