Skip To: Content | Sidebar | Footer
Sitemap   

Breidel Breidel !!!

keycuff

Liberty means responsibility. That is why most men dread it. —George Bernard Shaw

Tenang.. tenang, ini bukan yet another relay aksi keprihatinan terhadap Herman Saksono. Anda bisa memonitornya lebih baik via Technorati (feed) untuk itu.

Bahasa dan Pola Pikir

Bahasa mempengaruhi pola pikir. Dan sedikit banyak, kepribadian.
Ini berlaku untuk bahasa apapun.

Dialek surabaya yang pendek dan jujur, meski terlihat kasar tapi membuat seseorang menjadi “apa adanya”.
Dialek jogja yang halus tapi dalem, membuat kita harus berpikir dua kali untuk mengartikan maksud “ada apanya”.

Nah, kalo marketing, ga peduli dari daerah, pasti "apa-apa ada".

Dari bahasa tertulis kita bisa melihat, blog yang ditulis rapi serius menunjukkan orang sekuensial konkrit.
Tulisan yang mengalir dengan pokok pikiran tersebar dimana-mana menunjukkan person yang random konkrit.
Tulisan saya sendiri, random abstrak. Ndak jelas. Kabur. Ndak EYD. Kareanya, selalu saya usahakan untuk tetap cihuy.

Jadi Robot Yuk, Bip Bip

Walah.. SAP masuk ke kurikulum ?
Tinggal nunggu yang lain.
Microsoft sih udah, tuh banyak yang jadi Student Ambassador ato apa lah.

Bukannya saya idealis.

Saya ga bilang bahwa sekolah hanya mesin cetak sarjana yang nantinya jadi gilda kecil penggerak mesin besar bernama kapitalisme yang licik.

Saya Bentji Bangsa Ini !

Project saya terakhir hanya satu modul kecil. Saya kebagian GL, dan harus berintegrasi dengan inventory control milik konsultan lokal lainnya.

Disini kebencian itu bermula.

Karena sopwer inventory tersebut tidak mengekspos sarana untuk “omong-omongan” seperti webservice atau semacamnya, terpaksa kita harus maen tembak langsung ke database.

Kita minta user dengan privilleges tertentu ke database, tidak diberi.

Minta user dengan privilleges terbatas hanya untuk input yang dibutuhkan, tidak diberi.

Saya malah dapat sindiran menyakitkan : “kalo cuma begitu kita sih bisa juga bikin”.

Beentjiiiiii aaakuuuu. logat srimulat

Saya bicara ke EDP meminta keadilan. Ternyata konsultan mbencekno ini jalur kongkalingkong dengan “raja kecil”. Apa daya jika bos udah bicara : secara top-down semua harus patuh.

Setelah persuasi sana sini, kita cuma ada solusi : Input dan output data diberikan dalam format terserah saya. Kerjakan apa adanya, asal berita acara lancar.
Saya sangat gak puas, tapi mau gimana lagi.

Sebetulnya, apa sih yang ditakutkan ?
Sama-sama cari duitnya toh ?

Saya ga ada maksud untuk menikam dari belakang (baca: mereplace posisi inventory dengan bikinan saya).

What comes around goes around.
Saya masih punya akal sehat untuk tidak ikut putaran homo homini lupus. Saya masih ada Lunot.

Saya pernah bekerja sama dengan konsultan luar. 2 kali.
Mereka kooperatif, pertanyaan saya dijawab. Sample datapun diberi secara realtime untuk rekonsiliasi. Ada prosedur yang bagus dan membantu.

Sedangkan, dengan konsultan INDONESIA yang merasa paling pinter sejagad itu ?
Cara barbarian, seperti programnya.
(Tuhan tolong selamatkan mereka dari kegelapan program berbasis DOS. Amien).

My point is…
Coba deh lihat organisasi besar macam Pemda atau BUMN yang dilengkapi komputer branded dengan software licensi.
Pada proyek pengadaan barang, jelas toh ada “jabat tangan” antara beberapa raksasa asing. Misal : HP jadi supplier PC dan Microsoft jadi supplier OS dan Office. Kalo kelas server, ada IBM dan Sun yang siap mengisi.

Customized software ya gitu, ada semacam bagi-bagi juga. Untuk finance lari ke Eropa. Kalo broadcast/media lari ke Amerika. Yang lain-lain, lari ke India.

Ok .. ok.. saya sedikit melakukan generalisasi, tapi ini hanya untuk ilustrasi.

Kalo asing bisa kerjasama satu sama lain, kenapa kita tidak bisa ?
Kalo asing bisa bagi-bagi kue, kenapa kita tidak ?

Ini databaseku, kamu gak boleh login.
Saya bisa bikin software sepertimu, jadi kenapa saya tolong kamu ?

Hari ini saya sanksi, sebetulnya bukan korupsi yang bikin negara ini kolaps. Tapi sikap saling serigala antar sesama yang bikin mampus.

Saya juga serigala berbulu domba (dan doyan kopi), tapi setidaknya selektif cari wani… eh.. cari mangsa.

Quebrar Todos Os Paradigmas

Artinya : Mendobrak paradigma. Kata-kata marketing yang cukup ngetrend terutama di kalangan akademisi (baca : diskusi pinggiran kelas warung kopi). Sering diucapkan, sampai saya sering kehilangan makna sebenarnya.

Saya tahu istilah spanyol-nya dari pinjeman majalah Profit, punya client.

Tapi apa sih pendobrakan paradigma itu ?
Setahu saya bukan konsep berpikir lateral milik Bono (bukan Bono-nya U2).

Saya punya contoh.

Misal pertanyaan yang sering diajukan ke fresh graduate (mestinya sudah kuno) :

Berapa gaji anda ?:”(Salah satu pertanyaan aktual yang diajukan pada angket untuk wisudawan, dari pihak ‘cekolah’ hehe..)”:

Kalau berani ndobrak paradigma, mendobrak the wall:”(The Wall yang dimaksud Pink Floyd dalam lagu Another Brick In The Wall adalah mental wall antara manusia dengan lingkungannya, yang dipertajam dengan interaksi murid dengan gurunya yang opresif.)”: , ganti saja pertanyaannya dengan ini :

Anda sudah nggaji berapa?

Atau lebih baik lagi :

Anda sudah nggaji berapa orang ?

Berani ?

Or we’re all just another brick in the wall, huh ?:”(Iyo iyo aku ngerti postingan sing iki serius gak onok lucune blas.)”:

wall