Skip To: Content | Sidebar | Footer
Sitemap   

Resonant Leadership

resonant by Richard Boyatzis and Annie McKee
Harvard Business School Press, September 2005
fullfullfullfullfull
Category : book Review

Siapa itu Resonant Leader ?
Boyatzis dan Goleman mendefinisikan Resonant Leader sebagai seseorang yang mampu memanage perasaan/emosi pribadi dan orang lain dalam tim untuk mencapai kesuksesan bersama1 (organizational success).

Hey hey, ini buku berat, dry ?
Iya. Berat, tapi menyenangkan kok. Trust me.

Memoirs Of Geisha

GeishaBig book is big bore. Instead of reading novel, I would prefer wait in agony for its movie.

Memoirs of Geisha is my first novel I’ve ever read. No kidding.
I was intrigued by Arthur Golden’s central character: Nitta Sayuri.

Being a Geisha isn’t just about ended up being a hooker [pun intended]. This “profession” (if we may call it so) -Geisha- is way much more elegant.

Yes. There is Mitsuwage : giving the virginity to someone –probably landlord— who came with the highest bid.

But Geisha, actually is an entertainer. A singing lady and “lady escort” for tea-drinking ceremony in late evening. And they are also known as hard worker. They sleep only about 3 or 5 hour a day.

The novel takes us to Japan at 1930’s. Many believe that Sayuri is actually a real-life person : Mineko Iwasaki. She’s the main source for Arthur Golden writing this novel.

Memoirs’ story is compelling. By a cliché story of poverty, Sayuri was sold to a pimp in Kyoto at 5 and at 15, she had her Mitsuwage. Like any other big novel, there’s boring storylines also.

However, the movie looks promising. They got Zhang Zi Yi, Michelle Yeoh, and Ken Watanabe (Batman Begins, Last Samurai). I’m not gonna miss it, next month.

Yeah, time to grow up. Screw Harry Potter :razz:

Coretan di Buku

my bookshelf

Saya biasa mengkatalogkan buku koleksi. Memang, tidak se-strict perpustakaan yang dilengkapi tag Dewey. Tapi adanya katalog setidaknya membantu saya mengingat ini buku siapa atau buku saya dipinjam siapa.

Setidaknya, tidak lenyap satu persatu seperti yang dialami Didats :razz:

Meski bukan nomor katalog, saya biasa menandai buku-buku dengan signature yang bernada kurang lebih “eh, ini buku gw, kalo pinjem balikin”.
Secara praktik, di halaman depan saya coreti seperti ini :

  • sebuah tanda tangan,
  • tanggal mulai dimiliki (suka format shortdate misal July 15th, 2005),
  • dan sebuah quote :
    Untuk hari depan yang gemilang

Kalau bukunya diperuntukkan sebagai hadiah ke handai taulan, ya tetap ditandai seperti itu. Hanya saja tanpa tanda tangan dan dilengkapi ucapan selamat sesuai konteks kadonya.
Misal untuk newly wed :

Selamat menempuh hidup baru. Semoga kompak selalu. Dan ingat : cinta tidak bikin kenyang.

Atau untuk yang punya blog baru :
Selamat atas kelahiran blog anda. Narcist-lah hanya secara berkala. Kala sedih, kala senang, kala bete….dst dst

Hehe.. I was kidding yang tentang blog :mrgreen:

Kebiasaan ini saya tiru dari Paman saya. Beliau suka membubuhi tanda tangan beserta quote tersebut di koleksi bukunya.

Tak jarang, bukunya juga penuh coretan tangan catatan kecil di pinggir-pinggir halaman. Pesan beliau : buku itu bagus, tapi jangan hanya dibaca. Tapi harus dikritisi dan sedapat mungkin didiskusikan. Bahkan jika itu buku agama sekalipun.

Saya ingat, beliau mencontohkan “diskusi ala coret-coret buku” dari 4 buku yang saya pilih dari koleksi beliau. Antologi Puisi Rendra, Orang-orang di Kiri Jalan, Madilog, dan Schaum Series Kalkulus (karena ada bab ttg limit integral). Keempat-empatnya dihibahkan pada saya, dahulu sekali, sewaktu SMA.

Alhamdullilah, semuanya masih ada. Lengkap dengan coretan tangan Paman.

Anda juga membubuhi tanda tangan di buku, kan ? Atau mungkin tidak sama sekali ?

Kungfu Untuk Programmer

Mungkin terkena Sapir-Whorf syndrome, sekarang saya kagok coding di VB6. Karenanya, 2 bulan lalu saya “hijack” seorang teman untuk membantu menulis code. Saya sendiri tetep dibagian nggambar dan memilih selang air, seperi biasa.

Anyway, semalam kami nyoba evaluasi. “Debugging is believeing !”. Jangan percaya program sebelum didebug sendiri. Saya butuh lihat code secara langsung.

Codenya rapi, arsitekturnya bagus, penggunaan global variabel juga bijak. Ready to deliver. Tapi saya agak keberatan dengan strategy inisialisasi class.

Di VB6, gak ada yang namanya constructor. Ada hanya akal-akalan Class_Initialize() dan itupun tidak bisa menerima parameter. Kawan saya mencoba melakukan banyak persiapan class di dalam Class_Initialize ini. Saya tahu ini praktek yang buruk (saya tidak bilang sebelumnya).

Saya tanya TERLEBIH DAHULU kenapa kok semuanya ditaruh di Class_Initialize.

Dijawabnya, dengan begitu kode terlihat bersih. Sederhana di sisi client (class lain yang memakai class ybs), dan memang, terlihat cantik.

Saya sepakat.
Saya mengiyakan.
Saya mengamini, bahwa code program harus terlihat rapi elegan agar mudah dibaca programmer lain.

Tapi praktek ini error-prone. Bagaimana jika terdapat error pada saat inisialisasi yang seabrek itu ? Pesan error yang kita terima cuma :
No shit, failed to create object”.
Penyebab sesungguhnya kenapa class ini gagal dibuat (di-instance-kan) tetap jadi misteri.

Code yang baik, harusnya mengutamakan error handling yang baik diatas kerapian program.

Saya kemukakan sudut pandang ini SETELAH mendengarkan alasan teman. Jangan langsung mengkritik, tapi dengarkan dulu.

Covey’s Seven Habit 101 : Listen before you judges.

Mendengarkan itu penting. Maha penting dari skill programming apapun. Programmer juga manusia, butuh didengarkan, butuh aktualisasi, butuh dipahami kenapa dia menaruh konfigurasi file di registry atau XML file.

Oh jangan lupa, programmer juga butuh dicintai !
(pembahasan ini diluar scope project, jadi di-postpone dulu).

Berkecimpung di dunia konsulting butuh banyak skill mendengarkan. Anda gak akan bisa membuat program yang sesuai dengan keinginan customer tanpa skill mendengarkan.

Kita diberi 2 telinga dan 1 mulut dengan tujuan mendengar lebih banyak.

Strategi apa yang paling tokcer saat dimarahi si bos ? Mendengar dulu, biarkan puas marahnya, ingat setiap perkataannya, dan gunakan perkataan si bos sebagai bahan argumen anda.
(Tapi umumnya, bos yang pintar akan mambuat anda untuk beragumen dulu, lantas menghakimi setelah semua kartu anda terbuka di meja. Namanya juga bos, mestinya lebih pinter dari anda hehe..)

Di pelatihan untuk salesperson, kita tahu prinsip “ya ya ya”. Si sales diberi tahu untuk mencari kesenangan prospek, mendengar, dan mengajukan pertanyaan yang pasti dijawab “ya” oleh kita. Saat kita menolak, salesperson justru mengiyakan pendapat kita. Secara gak sadar, kita merasa “didengerkan”, dan ujung-ujungnya anda membeli apapun yang ditawarkan.

Alas ! Hati-hati, yang saya maksud disini adalah mendengar dengan empati. Jangan sekedar “ya ya ya ic sir”. Dengar secara tulus ikhlas. Jujur coba memahami. Tanpa ketulusan, anda akan jatuh ke the dark side of listening yaitu : menjilat. Anda mungkin bisa kaya, tapi hidup gak akan tentram. Beware of the power of dark side !

Dengarkan saran nona-nona sebelah ruangan, penjilat dan tukang gosip semuanya layak spanked.

Dewan kita yang mulia sedunia akherat adalah contohnya. Tidak mau diberitahu (tetep ngotot studi banding) dan tidak aspiratif. Akibatnya, kebijakan hukum sering ngawur binti sontoloyo.

Heraklitus bilang : If you want to be a leader, then you must learn to follow.

Teori leadership manapun, dari Zig Ziglar sampai Jack Welch menyatakan bahwa pemimpin itu membantu, bukan memerintah. Terobosan buku kepribadian seperti “How to Win Friends and Influence People” 75% berisi tentang teknik mendengarkan.

Kenapa kekuatan cinta berhenti bekerja ? Karena wanita tidak mau memahami, dan pria tidak bisa mendengarkan. Jadi romantis itu gampang kok, ndak usah bikin puisi ngalor ngidul ndak jelas juntrungannya. Tapi cukup, sediakan rekening bank emosi yang lumayan, dan dengarkan pasangan anda.

Saya jamin keampuhan jurus Gombal Mukiyo Tjap Doeren Tiga (tm) ini, garansi 3 tahun uang kembali !

Sesuai tetirah guru Yosen kepada si Kungfu Boy Chinmi, Tai Chi bukan tentang membalas pukulan saat tenaga musuh masih fullpower. Bukan pula menghindar (dodge), tapi menggerakkan badan searah dengan arah pukulan musuh.
Dengan sabar, menunggu rentang lengan musuh mencapai maksimal, dan membalas seketika tanpa ba-bi-bu.

Biarkan orang lain ngomong dulu sepuasnya, sambil bersiap pasang kuda-kuda untuk melancarkan kungfu peremuk tulang dengan menggunakan tenaga musuh dan memanfaatkan anti-klimaks hawa chi musuh.

Kamu gak akan dapet ini di sekolah manapun. Ini bukan science.

Ini kungfu.

Wattaw !!

Makanan Sehat

Malunya, saya baru tahu ada buku sehebat ini : Toto-chan : Gadis Cilik di Jendela; saat mengunjungi Pameran Buku AJBS kapan hari lalu.

Bercerita tentang konsep sekolah alam, kurang lebih seperti ini, dari sudut pandang seorang Toto-chan yang selalu “mempertanyakan segala sesuatu”.
Dan katanya, buku ini menjadi bahan bacaan wajib di Jepang. Katanya lho, saya sendiri nggak pernah ke Jepang secara fisik.

Ini quote favorit saya :

Kepala sekolah (Sosaku Kobayashi) meminta para orangtua untuk mengisi kotak bekal makan siang putra putri mereka dengan : Sesuatu dari gunung, sesuatu dari darat laut.:

Sungguh, kalimat paling cerdas (dan mengenyangkan) yang pernah saya dengar.

Ntar habis jumatan, cari pangsit didepan PLN embong wungu, dicampur tempura. Itadakimasu !