Go to content Go to footer

How Soccer Explains the World 13 comments

Product Image: How Soccer Explains the World : An Unlikely Theory of Globalization by Franklin Foer
HarperCollins (July 1, 2004)
fullfullfullfullfull
Category : Globalization, Sport

Sepak bola.
22 orang gila berlarian berebut bola, disaksikan jutaan pemirsa yang juga ikutan gila.

Sepak bola jelas fenomena. Apa yang sanggup menghentikan rotasi bumi selama satu bulan penuh ?
Jelas bukan Sirkuit Jerman, yang konon bikin susah Schumacher.

Hanya Piala Dunia (baca : sepak bola) yang sanggup untuk itu.

Tengok, game PS2 apa yang paling populer dilombakan. Winning Eleven, pasti. Kita adalah masyarakat soccer-mad.

Buku ini menjelaskan kegilaan kita terhadap sepakbola.

Meski begitu, kita nggak akan menemui profile lengkap bomber Ukraina yang bernama mirip saya itu. Tapi kita bisa mendapat pencerahan bagaimana sekat budaya bisa didribbling sehingga pemain Ukraina leluasa merumput di Lega Calcio.

Lain dribbling, lain pula tackling. Fanatisme kadang juga bikin gerah.

Di bab pertama, kita disuguhi fanatisme.
Misal, pengorganisasian supporter dan official tim Red Star Belgrade merancang kerusuhan dalam skala besar. Intimidasi ke tim lawan Red Star seringkali, efektif. Tapi efek yang ditimbulkan, berdampak moral dan budaya. Mereka belajar menghargai fairplay karena bosan dengan konflik dan perang di negara itu. Konflik yang dulunya juga meracuni sepak bola di negara mereka.

Dari Red Star yang penuh konflik perang, kita dibawa ke Glasgow. Disini, konflik agama bercampur dengan rivalitas Celtics (Katolik) dan Rangers (Protestan) hingga nyerempet-nyerempet ke urusan mafia.

Mungkin lebih mudah membayangkan bonek itu lho.

Bayangkan ini : Stadion Tambaksari Surabaya. Persebaya vs Arema.
Kalo anda sudah tidak doyan nasi pecel atau bebek kayu tangan, coba ngebut disana dengan kendaraan berplat nomor N. “Nikmatilah” rivalitas bonek dan ongis nade yang sedang menggila.

Terutama sekali, jika Persebaya kalah dari Arema. Seperti biasa.

Dari Tambaksari, err, Glasgow, kita akan diajak menengok belahan dunia yang lain. Konflik politik Brazil yang akhirnya berimbas pada liga sepak bola mereka. Hooligan Serbia, dunia sepakbola di negara-negara Islam seperti Qatar dan Iran, sampai lesunya sepak bola di Amerika Serikat.

Loh eh, ini katanya buku globalisasi ?
Makanya dia punya sub title “An Unlikely Theory of Globalization”.
Buku ini bukan ingin menjabarkan teori globalisasi a la Giddens atao Huntington. Tapi lebih tepat, penjelajahan budaya melalui 10 bab dengan kacamata dunia sepakbola.

Sampai akhir bab, kita nggak akan menemui satupun kata “G”.

Despite of the title that doesn’t fit the book, buku ini bagus untuk baca-baca ringan. Terutama anda yang nocturnal, suka lihat bola, dan menyukai petualangan keliling dunia.

gravatar
1. nana
revised OOT : no wonder yang ribut-ribut pas disuruh berhemat listrik adalah para bapak2 yah, karena kesenangan nonton bola jadi tersunat dengan semena-mena karena tipi ngga siaran malam2 aka dini hari dimana pertandingan sering terjadi *berima*, compared to pas bbm naik dimana yang tereak2 ampe nangis-nangis adalah para ibu. just how caring women are, we are just simply angels :mrgreen:
gravatar OOT juga na, sepakbola akhirnya nggak jadi kena imbas hemat listrik, mungkin karena menantu SBY bisa kehilangan pekerjaan jadi presenter tayangan siaran langsung sepakbola :D
gravatar
3. naga
bagi gue...sebagian fans dibodohi aja. Yang holigan2 gitu layaknya manusia purba. it's a matter of marketing and publicity. Fan-fan fanatik tidak ada hubungannya dengan bola. Mereka hanyalah kriminal yang patut dibasmi (buset.....gaya jendral banget omongan gua :evil:)
Mereka niat bukan untuk menikmati bola, mereka hanya mengeluarkan penyakit psikologisnya, di mana di kehidupan ril, mereka hanyalah loosers!
...ah gila, kasian gue sama org2 yg beli kaos bola mahal2, yang tidur di depan stadion demi mendptkan tiket masuk, yg mati dibunuh supporter lawan. Pada akhirnya, itu cuma 22 lelaki yang kelebihan hormon dan kurang kerjaan, ngejar2 bola, berusaha menutupi alatnya ketika penalti, cowards! :twisted: sorry sorry...ngga maksud merendahkan laki-laki...he he...anyway, sesuatu yg berlebihan selalu tidak baik hasilnya...

Andry : Saya suka bola karena pengaturan timnya (yeah, I play Championship Manager). Strategi. Teamwork. Misalnya pelajaran berharga bahwa komposisi super belum tentu bisa bagus (Real Madrid).
Atau komposisi orangnya biasa saja, tapi strateginya cocok : Chievo.
Atau belajar deception : Kenapa Gullardino dipasang sebagai sebagai attacker, padahal yang diandalkan justru Totti dan DelPiero.
Banyak lah yang positif dari sepakbola. Ketimbang olahraga ngabisin bensin muter2 lap 67 kali ?
Eh, sedikid kegilaan kayak bonek kan kadang menyehatkan kan ?
gravatar aku lho ndak paham bola... mbuh, nggak tertarik. tapi lek sego pecel bu kus n bebek kayu tangan yo hayuuukkk kekekek :D
gravatar
5. isni
bgitu liat judulnya di feedreader kirain mo curhat ttg bola.. tau2nya review buku.. :p

gw suka bola, tp ga semuanya - cuman liverpool.. well, pertandingan lain sih suka, tp ga gitu2 amat deh...
(merasa aneh sendiri dan sangat tidak mengglobal...)
:roll:

Andry : Game komputer pertama gw : Liverpool. Satu Disket 5'1/4" jalan di komputer XT 286. Waktu itu, masih jaya2nya Ian Rush !
gravatar busyet dah.... :D Shevcenko -nya ndak tersinggung nih ? :mrgreen:

mungkin mencoba ngeliat dari sisi pandang berlian yang sedikit berbeda dengan naga,...
kata temen yg dulu kul psiko : tiap orang punya naluri ingin jadi hero. atau paling gak butuh hero ..(kebenarannya wallahualam. :D )

nah mungkin kebutuhan akan "hero" ini bisa di temui oleh banyak orang pada soccer...
atau moment2 sejenis lainnya...
gravatar jadi kapan neh rencana traktiran di sego bebek kayu tangan... 8)
gravatar jadi inget, dulu pas masih kuliah di kampungnya Juergen Klinsmann, aku sering lho ke stadion. either nonton Bundesliga di Stuttgart, atau nonton liga kampung di kotaku. emang nggak penah sendirian, biasanya sih ama "teman dekat yang sekarang udah jadi mantan dan nggak tau di mana" :mrgreen:. kerasa bgt klo di sana suasana stadion relatif aman, even buat perempuan twenty something yg keliatan banget seorang Auslaender.

soal dotnya naila, emmm.. blom tega nyapih euy. untungnya dia ndak tonggos :mrgreen:

Andry : Di Iran, wanita demonstrasi karena tidak diijinkan pemerintah untuk masup ke stadion. Tapi, di Jerman itu bener-bener aman ? Atao anda saja yang merasa "aman" ? Hehe..

soal dot, mending segera deh. Pake metode Ferber sekali-kali gpp kok :)
gravatar tolong itu kata-kata mirip dihapus ya...!!
gak setuju didats! kalo temen maen becek2an dulu disamain dengan blogger...

*ngumpet*
gravatar Setuju sama Fami MimiMama.. mau dong diajak ke Bebek Kayu Tangan (di Malang ya?). :P

Itu Hooligan Serbia dan Ongis Nade ne Arema ya apa lek diketemukno? Hasile aku ta? Hehehe.. Yugo+Malang ;)

Btw.. Ferenc Varos mana? Koq Hungary ngga ikutan? 8)
gravatar
11. dental
bukunya gak cerita tentang Indonesia yah? Perlu direview dari sabang sampai merauke, apa aja yang mengiringi perjalanan per-sepakbola-an di negeri ini. asteb: k0rups1.

OOT: gw gak ngerti bola, bukan nocturnal yg bela2in begadang nunggu pertandingan, juga piala dunia. Nasi Pecel udah pernah makan tapi bebek kayu tangan keknya enak, namanya unik 8) traktir....!!!
gravatar
12. nana
OOT pisan : kalo urusan makan bebek kayu tangan, minta anterin mimi gih. aku sudah pernah, emang enak banget. thanks ya mi. kapan-kapan lagi

sorry ndry pake comsysmu, sebelum dilarang sebaiknya sekarang :mrgreen:
gravatar
13. naga
Betul, bola diambil bagusnya aja. Violencia sobra.

Your lovely comments, if you please.

Remember
 
Textile Help

this is not Spam.
   

Preview